Malapraktik Pendidikan di Bartim
Dua tahun terakhir ini dunia pendidikan di Bartim digegerkan dengan anjloknya tingkat kelulusan, terutama di tingkat SLTA. Berbegai spekulasi telah diutarakan oleh berbagai pihak yang sama sekali tidak tahu proses pendidikan di lapangan, antara lain; karena Kepseknya baru, gurunya goblok, gurunya malas, Kadisnya tiap tahun ganti dll. Itulah spekulasi yang berkembang di masarakat.
Dalam kondisi seperti ini tingkat kelulusan sama sekali tidak bisa dijadikan tolok ukur mutu pendidikan dengan alasan banyak jalan untuk mencapai tingkat kelulusan dengan prosentase semaksimal mungkin, tergantung pada kemauan stakholder, tapi apa jadinya pendidikan di masa mendatang? BSNP pasti menganggap nilai itu asli sehingga standar kelulusan setiap tahun akan merangkak naik.
Dua hal yang paling fatal dan sudah terjadi puluhan tahun di Bartim(dulu Barsel) ini adalah kegagalan di standar proses dan standar penilaian, mengingat dua faktor tersebut sangat menentukan mutu pendidikan.
Banyak pendidik yang mengajar hanya sekedar melepaskan tanggungjawab tanpa ada visi dan misi yang jelas terhadap mutu pendidikan (yang penting ngajar), mereka tidak mau tahu kegagalan yang terjadi pada PBM itu dari dirinya mereka atau pada diri siswa, tetapi alasan yang klasik selalu menganggap siswa yang bodoh sementara mereka jarang bahkan tidak pernah melakukan pretes dan pos tes.
Hal yang paling penting adalah standar penilaian, banyak guru yang melakukan tes dengan asal-asalan, tanpa memperhatikan perangkat tes yang mereka buat. Bahkan banyak yang menyerahkan nilai bodong tanpa menunjukkan bukti tes baik pada siswa maupun kepada kepala sekolah, nilai yang ada adalah nilai aman untuk menyelamtkan kelangsungan kepegawaian mereka, tidak pernah melakukan remedial tapi berani memberikan nilai tidak tuntas pada siswa, untung banyak orang tua yang tidak tahu tentang ketuntasan perorangan bukan ketuntasan klasikal. Mereka ogah melakukan penilaian dengan benar karena mereka tidak mampu menggunakan komputer sebagai alat bantu yang paling efisien.
Saya sangat setuju kalau LPMP menguji kompetensi keilmuan guru agar hitam atau kelamnya pendidikan di Bartim akan terkuak.

LPMP….?
benerkah anda percaya LPMP?
widyaiswara hanya bisa ngomong setelah ikut pelatihan, lain dari itu tidak ada yang dikerjakan untuk penjaminan mutu
pernahkah Anda melihat widyaiswara menulis di koran atau situs lpmpkalteng sendiri?
lhawong lembaga yang ikut menjamin mutu saja tidak bermutu, apa kata dunia?
tahun 2008/2009 di kantor bupati bartim, salah satu widyaiswara dari lpmp kalteng mengatakan dengan kalimat yang saya garis bawahi..”berdasarkan data yang akurat, kualitas pendidikan di bartim sangat bagus…..”
siapa sih yang mengisi artikel/berita di situs lpmpkalteng?
lho khan guru-guru bartim
sudahlah… percuma anda menjadi kucing dinegeri tikus
2 Pak Budi>> Kalau gak LPMP ya UNPAR yang penting ada badan yang mentes keilmuan tanpa melihat kepintaran yg mentes. Di Kaltim banyak guru yang tidak lulus uji coba UN yang dilakukan oleh UNMUL dan hasilnya UN 2010 di Kaltim tingkat kelulusan 0% tertinggi di Indonesia
masih belum mengerti prosedur standart penilaian mutu guru,,, tapi memang perlu ada tes mengenai kemampuan guru dalam mengembangkan PBM,, entah sdah berubah atau belum,, jaman saya sekolah dulu guru na cuma bisa kasih catatan, jelaskan sedikit, tes, lalu penilaian,,, gak ada pembahasan ama remedial,,, murid sulit mengembangkan kemampuan karena ketidak mampuan pengajar
cntoh na : dulu teman satu kelas saya pernah menanyakan sesuatu yang kurang dimengerti kepada seorang guru, akan tetapi guru tersebut malah melemparkan pertanyaan siswa tersebut kepada siswa lain, setelah siswa lain tidak mampu menjawab,,, sang guru malah membuat pertanyaan tersebut menjadi sebuah PR bagi siswa
suatu hal yang aneh untuk di nalar akal saya yang masih kurang cerdas,,, masa hal yang kurang dimengerti murid harus kembali dilemparkan kepada murid kembali ?
padahal hemat saya waktu itu, sehrus na guru trsebut dapat memberikan sedikit pandangannya mengenai pertanyaan siswa, baru kemudian di PR kan supaya siswa dapat mengembangkannya keluar,,,
maaf kalau komentar saya kurang berkenan,,, saia tidak memihak salah satu pihak,,, cuma sekedar ingin menceritakan pengalaman dan penilaian pribadi saya
saya dari siswa SMA N 1 Dusun Tengah. Waduuh saya sungguh tidak menyangka ada berita seperti itu saya baru tau kalo ada berita seperti itu… Walaupun saya sedikit-dikit ngerti tapi saya berterima kasih atas beritanya. It’s a good news
wah, malpraktik di bartim tdk skdar ada di skup dunia pendidikan saja, pak. Di hampir banyak sektor terutama pelayanan ke masyarakat, pada ‘njeblug’! ridiculous!