jump to navigation

HUKUM YANG TERBUNGKUS DAUN TALAS 29 November 2007

Posted by superbejo in Tidak terkategori.
trackback

Murid                    : Supremasi hukum itu apa pak Guru?

Guru                      : Sebelum saya jawab, adakah di antara kalian yang mau menjawab?

Murid                    : Hukum itu harus ditegakkan untuk siapa saja pak guru.

Guru                      : Benar ! itulahh maksud dari supremasi  hukum.

Begitulah kiranya hukum diajarkan di sekolah dengan harapan semua warga sekolah, masyarakat agar sadar terhadap hukum yang berlaku di negeri ini. Namun di balik idealnya suatu hukum telah terjadi pengingkaran terhadap hukum yang dilakukan oleh orang yang mengerti hukum.

Di Banjarmasin seorang jaksa yang terbukti  menggunakan sabu-sabu terbebas dari hukum lantaran polisi salah prosedur penangkapan, padahal sang jaksa sudah mengakui telah menggunakan sabu-sabu bersama istrinya sejak dia bertugas di Palangkaraya.

Tomy Suharto telah terbukti telah melakukan pembunuhan terhadap jaksa, hanya dihukum kurang dari 3 tahun.

Banyak aparat penegak hukum terlibat dalam pembalakan liar terbebas dari hukum lantaran tidak adanya bukti yang kuat untuk dijadikan tersangka.

Itu semua adalah anomali dari hukum yang hanya berpihak pada penguasa, sementara hukum bagi orang sipil tidak pernah ada kompromi.

Bukti pelanggaran hukum bagi penegak hukum sulit ditemukan karena mereka tahu persis bagaimana menghindar dari hukum. Misalnya, mengapa pada kasus  illegal loging tidak pernah tertangkap pelaku utamanya? Padahal kayu hasil jarahannya selalu diangkut lewat darat dan air yang pasti diketahui oleh polisi kehutanan, polisi, tentara dan masih banyak lagi yang mengetahuinya.

Murid                    : Apakah mereka tidak melihat?

Guru                     : Bagaimana mereka bisa melihat kalau matanya ditutupi uang oleh cukong kayu.

Murid                    : Mengapa mereka tidak dijerat hukum?

Guru                      : Bagaimana bisa dijerat hukum kalau tidak ada bukti yang kuat.

Murid                    : Mengapa tidak pernah diketemukan bukti?

Guru                      : SEBAB PADA SAAT MEREKA MENERIMA UANG DARI CUKONG KAYU, MEREKA  TIDAK   MAU MENANDATANGANI KWITANSI.

Murid                   : Hore !!! pak guru memang pintar.

Guru                     : Saya sih biasa-biasa saja! Yang pintar yah…. Yang mengakali hukum tadi.

Komentar»

1. budi - 4 Desember 2007

penegakan hukumlah yang menjadi salah satu sebab keterpurukan kita di mata dunia.
Dulu pada masa Bung Karno, bangsa Indonesia sangat dihormati dan disegani, terumata di wilayah asia–afrika.
tetapi bangsa indonesia sekarang dilecehkan sebagai bangsa yang korup dan miskin.
lihat saja bagaimana malaysia menyebut bangsa Indonesia dengan sebutan “INDON”, budak-budak yang suka bikin kerusuhan, tidak hanya itu, pemerintah malaysia mulai berani mencaplok wilayah-wilayah indonesia sedikit demi sedkit, bahkan budaya asli Indonesia mulai diklaim sebagai budaya malaysia. sy khawatir ntar lagu “cublak-cublak suweng”, “itak gumer”, andre arai ate” diklaim juga oleh malaysia. Karena kita sudah tidak peduli apa itu NASIONALISME, yang penting dapat duit.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di tingkat elit, tapi kita coba lihat diri kita, teman-teman kita, atasan kita, institusi kita yang katanya sebagai lembaga pendidikan malah mengajarkan KORUP, mengajarkan melanggar hukum.
Biar Malaysia diberi gelar MALINGSIA, BIar slogan GANYANG MALAYSIA di dengungkan lagi, tak akan mejadikan bangsa ini lebih besar, justru malah makin terpuruk.
kita tetap miskin, dan yg jadi korban adalah rakyat kecil jika konfrontasi dengan malingsia terjadi

2. sastro - 4 Desember 2007

hukum makan hukum
jeruk makan jeruk
pendidikan mengajarkan melanggar hukum
guru mencontohkan tidak taat hukum

akan kemana negeri kita di bawa….
bangsa Indonesia sudah tidak percaya dengan bangsanya sendiri. Tetangga sudah mulai berani menghina bangsa Indonesia, lihat saja Malaysia
Menyebut bangsa Indonesia dengan sebutan “INDON”
menjarah hutan, mencaplok pulau-pulau kecil
mengklaim budaya reog, masakan rendang, angklung sebagai budaya mereka
menyebut TKI sebagai budak indon perusuh

rupanya nasionalisme kita sudah kita gadaikan demi uang, masa bodoh dengan budaya, dengan pulau-pulau kecil, dengan rakyak miskin.

akankah nanti lagu “iti naan kisah”, “suwe ora jamu” juga akan di klaim Malaysia?

GANYANG MALAYSIA bukan peneyelasaian, karena justru yg jadi korban hanya rakyat kecil, tentara-tentara berpendidikan rendah.
Bahkan diberi gelar MALINGSIA pun kita tetap bodoh, miskin, dan korup.

PAWARTALAMAT berusaha membangkitkan nasionalisme melalui budaya