Kontroversi pelaksanaan Ujian Nasional semakin ramai diperbincangkan oleh berbagai pihak, baik pihak yang berkompeten di bidangnya maupun pihak yang sama sekali tidak mengerti di bidang pendidikan. Sebelum melangkah lebih jauh mari kita kupas dulu Permen yang menjelaskan peruntukana hasil ujian nasional, yaitu: Hasil Ujian Nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk; 1. Pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan; 2. Seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; 3. Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan 4. Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Dari poin 1 di atas rasanya sangat gamang kalau kita dapat menarik kesimpulan bahwa sekolah yang bisa meluluskan siswanya 100% dikatakan bermutu, hal ini cukup logis karena upaya mencapai kelulusan 100% bisa ditempuh dengan cara halal atau cara haram meskipun pemerintah sudah membentuk Tim Pemantau Independen(TPI), mengingat kinerja TPI sangat beragam dan ada sekolah yang sama sekali tidak pernah didatangi TPI mengingat sekolah tersebut cukup sulit medannya. Poin 2 di atas sama sekali tidak berfungsi, karena sebelum Ujian Nasional berlangsungpun Perguruan Tinggi sudah melakukan seleksi, apalagi setelah ujian nasional pelaksanaan tes masuk perguruan tinggi bisa dilaksanakan 3 gelombang di mana semuanya tanpa memperhitungkan jumlah nilai UN. Hanya poin 3 di atas yang dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah, yaitu hasil ujian nasional digunakan sebagai penentu kelulusan siswa dari satuan pendidikan, sehingga Ujian Nasional bisa merusak tatanan kehidupan masarakat yang selama ini sudah menjalankan norma kejujuran. Bahkan sekolah yang berbasi agampun bisa berbuat tidak jujur demi menyelamatkan nasip anak bangsa atau hanya sekedar mengejar prestise. Pemerintah menerapkan Ujian Paket C bagi siswa yang gagal lulus dari SLTA bukanlah jalan untuk meningkatkan mutu pendidikan, justru malah merendahkan mutu pendidikan sekaligus mengaburkan para lulusan paket C, karena bagi siswa yang sudah sekolah formal 3 tahun dari satuan pendidikan tertentu ijazah paket C nya tidak berlabel Satuan Pendidikan tertentu. Poin 4 di atas samasekali belum terealisasi dan adanya justifikasi dini terhadap mutu satuan pendidikan, karena sekolah sebagai biang kerok jika siswanya banyak yang gagal. Saya sangat setuju kalau Ujian Nasional tetap dilaksanakan tapi sekedar untuk mengetahui mutu satuan pendidikan, bukan sebagai satu-satunya penentu kelulusan, karena dengan demikian hasil ujian nasional benar-benar ASLI dan sekolah bisa mengembangkan kompetensi siswa dengan melakukan penelitian, observasi serta tindakan positif lainnya. Yang terjadi selama ini sekolah hanya konsentrasi pada persiapan ujian nasional dengan cara try out, tes psikologi dan cara lainnya yang memerlukan dana cukup besar. Sedangkan Balitbang tiap saat mengembangkan soal-soal ujian nasional yang secara rasional hanya menjebak siswa yang kemampuannya sangat beragam. (Dipublikasikan kaltengpos; Kamis 17 Desember 2009)
Semua orang pasti setuju kalau kelulusan Ujian Nasional diperoleh melalui demonstrasi pasti berdampak buruk bagi pendidikan di masa datang, untuk itulah kami akan menjelaskan secara detail mengapa hal tersebut bisa terjadi di Disdikpora Bartim.
Setelah beredar kabar di kapost tanggal 4 Juli 2009 bahwa sekolah-sekolah di Barut yang kelulusannya 0% berhasil lulus 100%, para siswa mendatangi sekolah dan bertanya mengapa hal itu bisa terjadi? Kami tidak bisa menjelaskan kepada para siswa sebab pada waktu itu tidak ada penjelasan resmi dari pihak dinas pendidikan provinsi, yang ada hanya penjelasan dari kepala sekolah SMAN 2 Mute bahwa beliau menjelaskan bahwa beliau mengurus ke BSNP Jakarta. Kemudian pada tanggal 11 Juli 2009 para siswa mendatangi DISDIKPORA bartim dan menanyakan hal tersebut, ternyata jawaban kadis kurang memuaskan malah menyuruh anak-anak sekolah di Barut.
Merasa kurang puas dengan jawaban tersebut, maka secara resmi anak-anak mengadakan demonstrasi dengan mengantongi izin dari Kapolres Bartim tepatnya tanggal 13 Juli 2009, lagi-lagi anak-anak tidak memperoleh jawaban yang pasti, malah Kadis dan skretaris tidak ada di tempat, kemudian mereka melanjutkan demonstrasi ke kantor Bupati bartim, pada saat itu kami ditelpon agar mendampingi anak-anak. Pada saat itu rapat dipimpin Asisten I dengan dihadiri DPR dan para pejabat lain, secara spontan kami membuat rumor adanya dana kontribusi kelulusan karena pada saat itu suasana semakin kurang kondusif lagi-lagi pihak Diknas tidak bisa memberikan penjelasan kepada para siswa.
Pada saat itu pula asisten I membentuk tim khusus yang katanya akan langsung mengadakan klarifikasi ke Dinas Provinsi, ternyata tim tersebut tidak pernah terbentuk sampai akhirnya kami harus berangkat sendiri ke Provinsi yaitu tepatnya tanggal 17 Juli 2009, di diknas Provinsi kami langsung diterima oleh pak Hardi Rampay dan beliau berjanji akan mengklarifikasi ke Jakarta pada tanggal 20 Juli 2009 dan kata beliau akan langsung datang ke Bartim mengantarkan hasil UN setelah diklarifikasi ke Jakarta. Pada saat itu kami melaporkan bahwa telah terjadi salah paket pada saat pembagian soal UN karena ketidaktahuan pengawas UN.
Hari demi hari kami menunggu hasil yang dijanjikan tidak juga kunjung datang, akhirnya pada tanggal 27 Juli 2009 kami diundang oleh DPRD dalam acara Hearing, pada saat itu diselipkan secara khusus permasalahn kami, dan para eksekutif dan legislative sepakat agar permasalahan tersebut diserahkan kepada DISDIKPORA dan tidak perlu dibesar-besarkan karena menyangkut stabilitas Bartim yang pada tanggal 12 Agustus 2009 akan melangsungkan HUT yang ke – 7.
Pada tanggal 27 Juli 2009 Kakanwil Dinas Provinsi mengeluarkan surat resmi yang isinya antara lain pihaknya masih menunggu hasil scanning, dan beliau mengatakan paket C merupakan solusi terbaik. Dengan catatan jika dalam peninjauan kelulusan ini siswa tersebut dapat dinyatakan lulus, maka ujian paket C dapat dibatalkan. Dan ternyata semuanya lulus paket C termasuk siswa yang tidak ikut UN, tetapi tetap tidak ada yang lulus UN.
Itulah kronologis yang dapat kami jelaskan dengan sebenar-benarnya, kami segenap warga SMAN 1 Tamianglayang mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang merasa tidak nyaman dengan kejadian tersebut, semoga kejadian ini tidak terulang di masa mendatang. Khusus buat BSNP kami sependapat kalau Ujian Nasional ini berfungsi sebagai pemetaan mutu pendidikan, bukan penghakiman bagi siswa karena dari tahun ke tahun kecurangan UN semakin besar dan sistematis. Hal itu sangatlah logis karena masing-masing sekolah lebih mementingkan prestise dibandingkan dengan prestasi, selain itu adanya keterbatasan BSNP dalam pengawasan pelaksanan UN akan dipergunakan pihak-pihak tertentu guna memenuhi hasrat orang banyak.
Semoga penjelasan ini bisa menenangka para orang tua dan LSM Bartim, hanya inilah yang dapat kami korbankan demi anak cucu kami dan jika nanti diperlukan kami siap memberikan informasi yang lebih spesifik.
Dari waktu ke waktu pemberitaan mengenai pelanggaran oleh sekolah selalu mengemuka. Berbagai reaksi langsung muncul baik berupa keprihatinan, sidak sampai pada pembentukan tim khusus yang dibentuk oleh Eksekutif maupun legislatif.
Penanganan tersebut sebenarnya terlalu sepihak, tanpa memperhatikan akar permasalahan yang sebenarnya. Sebagai contoh kasus pungli PSB yang sedang boming, menurut hemat saya hal ini bukanlah pungli sebab masing-masing sekolah mempunyai alasan yang kuat untuk melakukan pungutan guna melengkapi, memenuhi, ataupun mengejar ketertinggalan dengan sekolah lain terutama untuk memenuhi standar sarana dan prasarana.
Sampai sekarang PP yang mengatur standar pembiayaan belum rampung, sementara setiap sekolah sudah dihadapkan pada Akreditasi yang menuntut kelayakan sekolah sesuai spesifikasi yang dibuat oleh BAN S/M( Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah).
Sudah selayaknya kalau setiap sekolah berupaya mengejar target agar hasil Akreditasinya A atau minimal B, sehingga jalan pintasnya adalah mengadakan pungutan baik pada saat penerimaan murid baru, daftar ulang, atau pada saat pengambilan ijazah.
Reaksi selalu muncul dari pihat orang tua murid yang merasa keberatan terhadap pungutan tersebut, apalagi gaung sekolah gratis sudah menggema di berbagai penjuru negeri ini. inilah bad policy yang perlu dikaji ulang agar tidak membingungkan masyarakat yang rata-rata kalau diundang rapat komite jarang datang, akibatnya mereka selalu menuduh kalau ada pungutan pasti uangnya untuk keperluan kepala sekolah dan guru.
Dalam kasus lain, misalnya : penyelewengan DAK(Dana Alokasi Khusus), BIS(Bantuan Imbal Swadaya), BOS (Bantuan Operasional Sekolah), dan BOMM(Bantuan Operasional Managemen Mutu), sekolah selalu sebagai pihak yang harus bertanggungung jawab untuk memikul semua kesalahan, sementara pihak yang secara hirarki di atas sekolah selalu bersih dari segala kesalahan, inilah ketidak adilan yang yang sudah berjalan sejak zaman Orde Baru sampai sekarang.
Setidaknya kita sepakat kalau kebijakan pemerintah pusat itu adalah good policy, tetapi dalam perjalanannya terjadi policy failure atau bad implementation, itulah sebabnya pada saat Hearing dengan DPR RI saya pernah mengusulkan agar bantuan yang bertujuan untuk pengadaan /perbaikan fisik agar ditenderkan supaya sekolah bebas dari segala dosa dan fitnah.
Akhirnya kami berharap agar pihak eksekutif dan legislatif bisa mewujudkan visi misinya yang selalu menomorsatukan bidang pendidikan, agar kesenjangan antara sekolah dengan orang tua, sekolah dengan pemerintah bisa diminimalisasi.
Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai, ini untaian kata yang sederhana namun penuh makna, baik makna yang tersurat maupun makna yang tersirat.
Kami selalu mendahulukan mutu, namun di pihak lain(baca Disdikpora) tidak bisa mengakomodasikan keinginan kami, sehingga kami harus banyak menahan rasa ketidak puasan sekaligus menahan kekecewaan kawan-kawan yang selalu berpikir maju.
Dalam hirarki kedinasan situasi ini sangat tidak menguntungkan, karena ketercapaian visi dan misi menjadi sekedar wacana atau hanya bualan orang-orang yang frustasi, orang-orang tak punya kompetensi atau orang yang menderita education sindrome.
Tapi apa mau di kata, talenta tidak bisa dipaksakan, mentality tidak bisa dikarbid. Hitam di atas putih jadi tampak dengan jelas, itulah realita.
Money Oriented menjadi pilihan orang-orang yang berdedikasi rendah
Di mana aku harus memulai kalau semua lini telah diselimuti kepalsuan, kepura-puraan, serta kemunafikan.
Lalu kepada siapa pula aku harus mencurahkan luapan kekesalan yang akan segera meledak …….dar!!!!! , tapi aku yakin para netter , blogger akan meresponnya.
Agar tidak tegang ayo kita nyanyi dulu deh.
Jangan Pernah Berubah
biarkan waktu terus-lah berputar
ku cintai kamu penuh rasa sabar
meski sakit hati ini kau tinggalkan
ku ikhlas tuk bertahan
cintaku padamu begitu besar
namun kau tak pernah bisa merasakan
meski sakit hati ini kau tinggalkan
ku ikhlas tuk bertahan
* kaumeninggalkanku tanpa perasaan
hingga ku jatuhkan air mata
kekecewaanku sungguh tak berarah
biarkan ku harus bertahan
reff:
jangan pernah kau coba untuk berubah
tak relakan yang indah hilang lah sudah
jangan pernah kau coba untuk berubah
tak relakan yang indah hilang lah sudah
repeat *
repeat reff
jangan pernah kau coba untuk berubah
ku relakan yang indah dalam hatinya
Ya itulah kasihsayang guru pada mantan muridnya.
The story is someone always ask me where envilope…….where money ……………………
The End.

Sapiku
Kurban merupakan perkara syara’ yang bisa sunnah bahkan wajib dilakukan orang muslim seantero dunia. Hal ini sesuai dengan firman Allah” Maka bersholatlah kepada tuhanmu dan berkurban” (QS. Al-Kautsar:2) dan “Maka makanlah kamu dari sebagian yang telah disembelih itu dan beri makanlah orang yang rela menerima dan orang yang meminta”(QS. Al-Haj:36).
Dari fenomena yang ada hati kita sangat miris, melihat orang yang antri kupon daging kurban sampai pada pengambilan daging kurban, ada yang sampai pinsan mungkin nanti bisa menyebabkan kematian sebagaimana antri zakat fitrah di Pasuruan.
Apa yang salah pada kegiatan tersebut?? Sistem atau mental pengemis yang merasuk dalam dada manusia? Mungkinkah manusia sebanyak itu tidak pernah makan daging?
Apapun alasannya yang jelas kita harus bisa mengantisipasinya, karena pemandangan seperti itu sangat menyayat hati yang melihatnya, kecuali hati orang yang riya’ demi pujian manusia yang senang dengan kondisi itu.
Lain halnya dengan kisah di Banjarmasin tahun lalu, orang yang dapat daging kurban sampai dijual dengan harga murah karena saking banyaknya daging di rumahnya.
Hal inilah yang menjadi topik dalam buku Al-Islam ma’a Al-Hayat dengan penuh tanda Tanya” Apakah kita menghambakan(patuh) diri kepada syara’ dengan berkurban hanya untuk daging, yang pada akhirnya hanya untuk kemusnahan”.
Adakah solusi yang baik agar penerima daging kurban tidak kebanjiran daging yang pada akhirnya bertindak melampoi batas dan menimbulkan haram baginya???
Idealisme guru bisa terlihat ketika sang guru baru melaksanakan tugas sebagai guru, baik berupa: guru honorer, guru kontrak, atau guru CPNS.
Performa, kinerja dan dedikasi sang guru dapat tercermin sejak awal, dan dapat disimpulkan ketika sang guru tersebut alih fungsi sebagai tenaga fungsional.
Banyak mantan guru yang berhasil menduduki jabatan tinggi di negeri ini, akan tetapi sangat sedikit yang mengingat pengalaman pahitnya sebagai sebagai guru, hasilnya adalah mereka justeru mempressing kinerja guru, tanpa harus memperjuangkan nasib guru bahkan mereka mengambil keuntungan dari keringat para guru. Kacang lupa kulitnya??
Rupanya issu good government dan clean government hanyalah wacana bagi seseorang yang belum masuk policy cycle yang cenderung menghasikan good policy yang semu, padahal di dalam penuh dengan bad policy yang terselubung oleh kepalsuan dan bernuansa pengamanan kebijakan agar tidak diketahui oleh masyarakat.
Tak salah kalau orang bijak berkata “Kalau kita harus jujur, maka kita harus berbohong”. Bohong kepada Banwas, BPK maupun Jaksa. Namun kita tidak bisa membohongi Allah, bahkan kita selalu dimonitor oleh Allah dengan RoqibCam dan AtidCam secara otomatis.
Inilah yang disebut policy failure yang akan menghancurkan bangsa ini, karena mereka tidak tahu kapan mereka berkata benar atau kapan mereka berbohong.
Alangka baiknya kalau kepompong menjadi kupu-kupu, tetapi alangka jeleknya kalau guru menjadi monster.
MoU SSN/SKM sudah kami lakukan, namun kami rada merinding melaksanakannya, sebab banyak hal yang harus kami persiapkan agar dapat terakreditasi sesuai yang diharapkan meskipun untuk memenuhi 8 standar SNP saja sangat sulit. Semoga Pemda dan komite mendukung.
Penghinaan Islam beserta Nabinya telah dilakukan dari awal. Paul Alvarus (w. 859 M) menggunakan Kitab Daniel(Book of Daniel) untuk menyatakan bahwa Muhammad sesuai dengan gambaran Anti-Kristus, lengkap dengan tanda jahanam 666, yang adalah kematian Nabi. Fitnah terhadap Nabi ini menjadi satu dengan penyelenggaraan sastra rakyat yang dikenal sebagai chansons de geste di mana Nabi diandaikan dengan sinonim setan. Mahound dan roman kepahlawanan yang kemudian dikembangkan . Dalam abad pertengahan, fitnah ini memberi pengaruh yang luar biasa terhadap literatur Italia, Jerman, Sepanyol, Perancis dan Inggris, bahkan sampai dengan abad ke – 17 dalam bentuk yang berbeda. Gayanya terlihat kembali pada abad ke – 19 dan ke – 20. Contoh yang sudah kita lupakan adalah tulisan Salman Rushdie dengan The Satanic Verses ( Ayat-ayat Setan, bukan Ayat-ayat Cinta), yang telah menuliskan kehidupan Muhammad dalam gaya fitnahan literatur chansons, karikatur Nabi Muhammad yang dibuat di Denmark, dan kemudian Film Fitna yang dibuat oleh warga negara Belanda. Entah fitnah macam apalagi yang akan muncul.
ISALAM = TERORISME ???
Islam dan terorisme menjadi identik, setelah kejadian 11 September 2001. Hal ini menjadi wajar. Tidak ada yang lebih tinggi dari kebenaran. Islam tidak dapat disalahkan dalam aksi teroris yang menyerang World Trade Centre di New York dan Pentagon di Washington, sama halnya Kristen tidak dapat disalahkan karena kamar gas, atau Katolik karena kegiatan teroris di Irlandia. Teroris mengikuti jalan pikiran mereka sendiri yang berbelit-belit dan berada di luar ukuran normal, melampau alasan-alasan yang masuk akal. Mereka adalah orang-orang yang tidak berperasaan di mana kejahatannya bertindak menakutkan hati nurani semua orang.( ingat tragedi bom Bali I dan II, bukankah pelakunya muslim yang berpegang pada Al-Quran dan Sunnah??)
KEBEBASAN INFORMASI
Sekarang informasi mudah di dapat di mana-mana, baik berupa teks, audio, maupun video. Banyak manusia Indonesia yang tidak siap dengan keberadaan informasi tersebut. Hal ini bukan hanya menyebabkan permusuhan antar umat beragama, akan tetapi antar sesama umat beragama saja bisa bentrok. Coba saja baca buku yang berjudul “ Mantan Kiai NU yang mengupas sholawat syirik, istighosa, tahlil dan seterusnya……” karangan H. Makhrus. Kalau pembacanya tidak sabar membacanya bisa-bisa berbuat brutal, sebagaimana brutalnya ormas Islam yang menyerang Ahmadiyah dan LDII.(beruntunglah negara komunis, mereka tidak pernah bentrok dengan keyakinan yang mereka anut).
TELADANI SIFAT NABI MUHAMMAD
ü Nabi Muhammad saw. tidak marah ketika dihina seorang pengemis Yahudi dengan ejekan “ Muhammad pembohong”
ü Kebenaran itu datangnya dari tuhanmu, maka dari itu janganlah kamu ragu.
ü Tidak ada paksaan dalam beragama
ü Buat kamu agamu dan buat aku agamaku.




