Juara OSN Bartim 2011

•1 Juni 2011 • 1 Komentar

1. Matematika;

I. Kristian SMAN 1 T.Layang

II. Noraida MAN Dusun Timur

III. Juliani SMAN 1 P.Tutui

2. Astronomi

I. Rian ND  SMAN 1 T.Layang

II. Devita A SMAN 1 Ds. Tengah

III. Haryadi MAN 1 D. Timur

3. Kebumian

I. Gusto SMAN 1 T.Layang

II. Caca Orida SMAN 1  P. Tutui

III. Rahmi AS MAN D.Timur

4. TIK

I. Noorhidayah MAN D. Timur

II. Debby Auliya F SMAN 1 T.Layang

III. Ardianto SMAN B. Lima

5. Ekonomi

I.Andrea PH SMAN 1 T.Layang

II. Nurjanah SMAN 1 A. Lapai

III. Susi Andayani SMAN 1 Dusun Tengah

6. FISIKA

I. Ratih DA SMAN 1 T.Layang

II. Siti Hamdanah SMAN 1 A. Lapai

III. Selpiana SMAN 1 B. Lima

7. KIMIA

I.Rosi DP SMAN 1 T.Layang

II. Rifa’atul Mahmudah MAN D. Timur

III. Marahayatini SMAN 1 B. Lima

8. Biologi

I. Andi RS SMAN 1 T.Layang

II. Dian A Labi SMAN 1 T.Layang

III. Cyntia Intani SMAN 1 B. lima

Semua juara dari I S.D. III akan dikirim ke Palangkaraya tanggal 6 Juni 20011, agar kiranya dapat

menyiapkan diri.

TTD

Kasi Ibu

Hidup dalam Dillema

•26 Maret 2011 • 1 Komentar

Dua Puluh Satu tahun sudah saya berkiprah dalam dunia pendidikan, berbagai macam pelatihan sudah saya jalani demi kemajuan peserta didik, berbagai strategi pembelajaran sudah saya terapkan, namun ada ketidak seimbangan dalam sistem tersebut karena tidak semua komponen berjalan sesuai standar.
Ada rasa ketidakpuasan dalam batin mengapa hasil tidak maksimal, apa yang salah?
Rasanya perlu kita mencoba menerapkan sistem pendidikan yang betul-betul formal, dalam arti kita harus mengkondisikan standarisasi semua elemen, seperti: Guru, Media, Sarana dan Prasarana dan semuanya harus terevaluasi.
Yang terjadi sejak dulu adalah semua berjalan di tempat, kadang malah berjalan mundur, terutama sejak Tunjangan Sertifikasi Guru diterapkan.
Kecemburuan membuat kinerja menurun, sementara yang sudah menerima tunjangan sertifikasi samasekali gak beda dengan yang lainnya, tidak ada tanggungjawab moral.

Prestasi yang Terabaikan

•28 Oktober 2010 • 6 Komentar

Banyak prestasi anak-anak Bartim di bidang olahraga yang telah dan bisa dicapai, namun musuh terberatnya adalah tiadanya DANA yang menunjanjang, Siapa yang Salah???

Selaku pembina basket SMANSAYANG JOSS BC, saya kerab kali naik turun kantor Pemda Bartim sambil membawa proposal, kadang mujur kadang celoteh tak sedap yang kudapat, itulah resiko pengemis.

Namun sekarang lain, sekolahku sudah melimpah dana; Dana Subsidi, dana Komite, dan dana lain yang tak mengikat.

Salahkah aku jika memasukkan program olahraga ke dalam RAPBS yang begitu besar? bukankah olahraga merupakan termasuk Pengembangan diri  yang harus dilaksanakan di sekolah?

 Di sisi lain hadiah yang diberikan oleh penyelenggara sangat kecil, sehingga tak mampu untuk membiayai kegiatan tersebut, sering kali kami mengeluarkan uang 24 juta, hadiah yang diperoleh 1 juata untuk juara I.

Terkadang olahraga hanya milik olarawan saja, yang paling ekstrim adalah ada pemangku kebijakan yang tega memangkas dana untuk kepentingan diri sendiri, entah terbuat dari apa hati mereka.

Wallahu a’lam

Guru Abad 21

•3 Oktober 2010 • 4 Komentar

Tanah dan air penuh dengan mahluk hidup, namun terkecuali manusia, mereka jarang sekali mengalami perubahan, dan kalaupun mereka berubah, perubahan itu memerlukan waktu yang lama sekali. Paku-pakuan tumbuh dan ikan berenang tetap dalam cara yang sama seperti apa yang mereka lakukan jauh sebelum manusia berjalan di atas permukaan bumi ini. Semut-semut yang rajin melanjutkan kegiatan mereka sehari-hari untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka, tetap dengan cara yang tidak bebeda ketika dinosaurus menguasai dunia. Tetapi manusia dalam sejarahnya yang singkat telah mengubah wajah dunia dan dirinya sendiri. Cirri khas yang dimilikinya adalah perubahan yang terarah dengan mempergunakan pikirannya. Dia adalah Homo sapiens ; Manusia  si pemikir.

Otak manusia bekerja seperti jantung yang tak berhenti berdenyut, siang dan malam, sejak masa kecil sampai tua renta. Dalam jaringan yang besarnya kurang dari satu setengah kilogram itu, tercatat dan tersimpan berbilyun-bilyun ingatan, kebiasaan, kemampuan, keinginan, harapan dan ketakutan. Di dalamnya tersimpan pola, suara, perhitungan dan berbagai dorongan. Bahkan bisikan yang terdengar tiga puluh tahun yang lalu, atau kenangan kebahagiaan yang tak kunjung datang namun terus terbayangakan          ( misalnya keinginan guru untuk memiliki gaji yang layak).

Bahwa manusia berpikir tiap saat adalah gambaran sehari-hari yang teramat biasa, namun bahwa sejarah kemanusiaan akan lebih mudah dipahami bila kita tinjau dari proses belajar, kenyataan ini merupakan konsep yang kurang dikenal. Sebenarnya karena disebabkan oleh factor belajarlah maka kita menjadi manusia seperti sekarang ini. Otak manusia yang menakjupkan, yang terbentuk sel demi sel dan refleks demi refleks, diperkuat oleh dua kekuatan yang tak kurang menakjupkan, yakni kemampuan berbicara dan tangan yang perkasa. Perkembangan  yang berjalan sangat lamban namun mengesankan , lewat proses belajar dan belajar , mengandung hal-hal yang memilukan dan memukau.

Hanya dengan belajar dan belajarlah para guru akan sanggup menjawab tantang kemajuan jaman

Malapraktik Pendidikan di Bartim

•25 Mei 2010 • 6 Komentar

Dua tahun terakhir ini dunia pendidikan di Bartim digegerkan dengan anjloknya tingkat kelulusan, terutama di tingkat SLTA. Berbegai spekulasi telah diutarakan oleh berbagai pihak yang sama sekali tidak tahu proses pendidikan di lapangan, antara lain; karena Kepseknya baru, gurunya goblok, gurunya malas, Kadisnya tiap tahun ganti dll. Itulah spekulasi yang berkembang di masarakat.

Dalam kondisi seperti ini tingkat kelulusan sama sekali tidak bisa dijadikan tolok ukur mutu pendidikan dengan alasan banyak jalan untuk mencapai tingkat kelulusan dengan prosentase semaksimal mungkin, tergantung pada kemauan stakholder, tapi apa jadinya pendidikan di masa mendatang? BSNP pasti menganggap nilai itu asli sehingga standar kelulusan setiap tahun akan merangkak naik.

Dua hal yang paling fatal dan sudah terjadi puluhan tahun  di Bartim(dulu Barsel) ini adalah kegagalan di standar proses dan standar penilaian, mengingat dua faktor tersebut sangat menentukan mutu pendidikan.

Banyak pendidik yang mengajar hanya sekedar melepaskan tanggungjawab tanpa ada visi dan misi yang jelas terhadap mutu pendidikan (yang penting ngajar), mereka tidak mau tahu kegagalan yang terjadi pada PBM itu dari dirinya mereka atau pada diri siswa, tetapi alasan yang klasik selalu menganggap siswa yang bodoh sementara mereka jarang bahkan tidak pernah melakukan pretes dan pos tes.

Hal yang paling penting adalah standar penilaian, banyak guru yang melakukan tes dengan asal-asalan, tanpa memperhatikan perangkat tes yang mereka buat. Bahkan banyak yang menyerahkan nilai bodong tanpa menunjukkan bukti tes baik pada siswa maupun kepada kepala sekolah, nilai yang ada adalah nilai aman untuk menyelamtkan kelangsungan kepegawaian mereka, tidak pernah melakukan remedial tapi berani memberikan nilai tidak tuntas pada siswa, untung banyak orang tua yang tidak tahu tentang ketuntasan perorangan bukan ketuntasan klasikal. Mereka ogah melakukan penilaian dengan benar karena mereka tidak mampu menggunakan komputer sebagai alat bantu yang paling efisien.

Saya sangat setuju kalau LPMP menguji kompetensi keilmuan guru agar hitam atau kelamnya pendidikan di Bartim akan terkuak.

NAJIS

•5 Mei 2010 • 3 Komentar

Rasulullah saw bersabda,yang isinya jika perkakas/perabotan yang dijilat anjing harus dibasuh 7x dan di antaranya harus ditambah tanah.

Selama kita mengetahui sabda tersebut kita tidak pernah bertanya mengapa harus tanah, kok gak tepung, pasir atau yang lainnya.

Setelah saya bergelut dengan sains barurah saya sadar bahwa campuran tanah dengan air akan menghasilkan sistem KOLOID yang mampu mengabsorbsi (menyerap) kuman, bakteri dan sejenisnya, karena pada koloid tersebut terkandung : Al(OH)3, Ba(OH)2, Ca(OH)2 dan Mg(OH)2.

Yang perlu dibanggakan adalah KOLOID itu sendiri baru diperkenalkan pertama kali oleh Thomas Graham pada tahun 1861, sedangkan Rasulullah saw sudah mengaplikasikan sebelum teori koloid ditemukan. Subhanallah, hebat bukan?

Era modern telah menghasilkan koloid-koloid baru yang daya kerjanya sangat dahsyat dan supercepat, namun fatwa MUI masih diperlukan dalam rangka uji validasi suatu pendapat.

Bolehkah tanah tersebut diganti dengan sabun, deterjen, atau shampoo yang notabene ketiga zat tersebut merupakan koloid yang diciptakan ilmuwan?.atau kita harus mencari tanah yang bebas najis untuk membersikan najis?

Wallahu a’lam

PEMENANG OSN Tk. KABUPATEN BARTIM 2010

•3 Mei 2010 • 3 Komentar

Bidang Komputer

Juara 1. Albert Hosea  SMANSAYANG

Juara 2. Agus Maisyaroh SMAN1DUTA

Juara 3. Titot Herauan SMAN 1 Awang Lapai

Bidang Biologi

Juara 1. Peter Ero SMANSAYANG

Juara 2. Yoel Lasmito SMANSAYANG

Juara 3. Muraya Putri SMAN1DUTA

Bidang Astronomi

Juara 1. Okta Merry SMAN2DUTA

Juara 2. Mery Anggriani SMAN1 DUTA

Juara 3. Heriyati SMAN 1Awang Lapai

Bidang Ekonomi

Juara 1. Anisa Fransiska SMANSAYANG

Juara 2. Rosi rayani MAN Dusun Timur

Juara 3. Yeni Riantani SMAN 2DUTA

Bidang Fisika

juara 1. Reny Widya Estuti SMANSAYANG

Juara 2. Riskavia Mulahartani SMAN2DUTA

Juara 3. Junisa Vitalino SMAN1DUTA

Bidang Kebumian

Juara 1. Meilina Sari SMANSAYANG

Juara 2. Isnan Deni Rahman SMAN2DUTA

Juara 3. Noraipah MAN Dusun Timur

Bidang Matematika

Juara 1. Rinda Tirta Pratiwi SMAN 1DUTA

Juara 2. Maya Puspitasari MAN Dusun Timur

Juara 3. Ririn Sunarti A SMANSAYANG

Bidang Kimia

Juara 1.Lovena Brena Honesty SMANSAYANG

Juara 2. Riswanti SMANSAYANG

Juara 3. Jhony Rampuginantaka SMANSAYANG

Hasil UN 2010

•26 April 2010 • 8 Komentar

Sudah dapat diduga UN 2010 akan meninggalkan kisah sedih, duka, sesal dan frustasi bagi siswaku, 60 orang yang gagal UN 2009  ikut mendaftar sebagai peserta UN 2010 dengan berharap bisa memperbaiki jati dirinya, namun nasip atau kehendak Tuhan berkata lain ” Anda harus mengikuti UN ulang 10 Mei 2010″.

Sementara adik kelas yang menjadi peserta UN 2010 juga tidak mau peduli dengan kegagalan UN 2009, mereka acuh, cuek seakan tidak  mau tahu betapa pedihnya mengalami kegagalan, hal ini bisa dilihat dari: tidak memiliki buku referensi, jarang masuk sekolah , Ujian Sekolah  harus dijemput dari rumahnya, sampai hari H belum ngumpul foto dan masuk Pusat Sumber Belajar hanya buka FB.

UN identik ujian untuk guru itu sendiri di mana guru harus mau dan mampu jadi pencuri di sela-sela pengawasan polisi dan TPI serta LSM. Tragis memang, namun itulah usaha sang pahlawan tanpa tanda jasa.

Namun tahun ini kita terkecoh, kode soal A dan B yang tahun dulu hanya dibolak balik nomor ternyata tahun ini betul-betul berbeda sehingga bagi 1 orang guru yang kemampuannya kurang sangat mustahil bisa menyelesaikan dalam waktu 2 jam( kapan baginya?). Apalagi kalau  soal UN tahun depan dibuat kode A – T dengan soal yang sama sekali beda, pasti prosentase UN secara nasional bukan hanya turun 5% tapi mungkin turun 75% ditambah lagi seandainya pengawas ruangannya seorang polisi dan LJK langsung di kumpul ke Jakarta pasti hasil UN ASLI.

Itulah sebabnya UN selalu menimbulkan pro dan kontra, namun keberadaannya masih tetap dipertahankan dengan alasan mutu. Entah sampai kapan UN serta rumus kelulusannya dijadikan tolok pengukuran mutu. Tapi yang jelas sebagai masyarakat marginal kita harus patuh, manut sama permen.

Nikah Sirih antara Haram dan Halal

•2 Maret 2010 • 5 Komentar

Nikah sirih haram atau halal? Kita harus mengembalikan pada niat kita. “ Innamal a’maluu bin niyyat”. Halal dan haram harus dilihat dari segi yang lebih mengarah pada tujuannya, dahulu orang melakukan nikah sirih karena alasan ekonomi, kalau kita hukumi haram maka ribuan anak bahkan jutaan anak haram telah lahir di dunia ini. Sekarang nikah sirih disalahgunakan tujuannya, yaitu untuk kepentingan sex, kawin kontrak dll. Banyak hal yg secara hukum halal bisa menjadi haram, pahala menjadi dosa, surga menjadi neraka. Contohnya solat adalah bisa membawa kita ke neraka Wel jika kita melakukannya karena pamer, untuk pengakuan setatus sosial. Contoh lain yang dulunya larangan menjadi halal adalah perempuan yang pergi haji tanpa didampingi muhrimnya, dulu hal itu dilarang oleh Rasulullah karena pada zaman dulu sangat membahayakan bagi kaum wanita(alat transportasi belum canggih), sekarang hampir seluruh ulama membolekannya. Secara ilmu ushul fiqqih hukum itu ada yang mutlak ada yang muqoyyad, jadi kita harus bisa mengklarifikasinya. Wallahu a’lam

Budaya Mutu

•23 Februari 2010 • 9 Komentar

Pada tanggal 15 – 19 Pebruari 2010 setiap kabupaten mengirim 6 orang yang terdiri dari: kabid , Pengawas, Kepala Sekolah, 2 orang wakasek dan 1 orang guru senior yang berkumpul di LPMP Palangkaraya dalam rangka sosialisasi Sistem Penjaminan dan Peningkatan mutu pendidikan.

Kegiatan tersebut dimaksudkan agar kita bisa menerapkan BUDAYA MUTU dan Kepuasan pelanggan, sebuah konsep yang mengadopsi pada manajemen industri.

Yang perlu diperjuangkan adalah bagamaimana kita bisa melakukan perubahan kultur(change culture),dengan tujuan membentuk budaya organisasi yang menghargai mutu dan menjadikan mutu sebagai orientasi semua komponen organisasional(bukan budaya malas dan bersaing dalam kemalasan).

Semoga dengan adanya persaingan hidup di era globalisasi ini semua orang mau mengubah konsep lama yang hanya mementingkan money oriented menjadi quality oriented, sehingga sepakat bahwa ” Mutu adalah sebuah hal yang berhubungan dengan gairah dan harga diri” dalam artian : seorang ibu guru tidak sama dengan ibu rumah tangga pada umumnya dan seorang bapak guru gak akan kalah pintar dengan tukang koran yang hanya tamatan SD.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.